Selasa, 28 September 2010

Carica adalah bahasa latin dari pepaya. Untuk membedakannya dengan jenis pepaya pada umumnya, bahasa latin itu lalu digunakan sebagai nama pepaya imut khas Dieng ini. Sering pula disebut Carica Candamercensis atau Mountain Papaya. Warga setempat dulu menyebutnya Gandul Dieng karena buahnya yang gemandhul atau tergantung seperti pepaya pada umumnya.
Asal buah Carica sampai hari ini belum pasti. Sejumlah pakar mengatakan buah Carica berasal dari Australia. Tetapi, ada yang menyebut Carica berasal dari Amerika Latin dan dikembangkan oleh seorang insiyur dari Belanda pada 1900-an. Sementara, warga setempat meyakininya sudah ada sejak nenek moyang. Dari mana pun asalnya, yang pasti buah Carica hanya bisa tumbuh di dataran tinggi dan berhawa dingin seperti Dieng. Di Malang, Jawa Timur buah ini pernah dicoba dikembangkan. Hasilnya tak sebagus di Dieng. Di lereng Gunung Merapi Jogjakarta, Carica gagal dibudi-dayakan.
Keunikan buah Carica, pertama-tama ada pada bentuknya yang imut. Tak lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa. Buahnya tumbuh bergerombol di dahan dan batang pohon. Kulit buahnya menguning jika masak. Dagingnya juga berwarna kuning dengan biji-biji kecil yang tampak mengundang selera. Tetapi, rasa manis hanya ada pada biji-biji kecilnya. Biji-biji itu pula sumber rasa khas pada sirup Carica dan sumber pengembang-biakan pohonnya dengan cara disemai.
Batang pohon dan daunnya mirip pohon pepaya yang banyak terdapat di hampir semua daerah di Nusantara. Bedanya, pohon Carica bisa bercabang dan mampu bertahan selama tahunan. Pada usia setahun, menurut Miyanto, pohon Carica mulai berbuah. Tak ada cara khusus dalam pemetikannya. “Tetapi petani harus rajin memantau buahnya, karena tidak semua masak bersamaan”, terangnya.
Carica yang dipercaya sudah ada sejak nenek moyang penduduk Dieng, tak begitu populer karena buanya tak bisa langsung disantap. Di era tahun 1970-an, buah Carica yang berlimpah di lembah Dieng bahkan pernah begitu saja dibuang karena memang tidak laku dan tidak enak dimakan. Baru ketika diperkenalkan cara membuat sirup, nasib buah Carica sedikit tertolong. Tetapi warga sekitar masih banyak yang enggan membudi-dayakan besar-besaran. Kecuali hanya coba-coba, sambil menunggu Carica menjadi produk bernilai ekonomi yang stabil. (dapnaki.multiply)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar